Mengeluh itu wajar. Saat kita mencoba mengatur uang dengan lebih baik, aplikasi yang tidak sesuai harapan bisa jadi lebih frustasi daripada tidak punya aplikasi sama sekali. Sribuu, sebagai salah satu pionir budgeting app lokal, tentu bukan pengecualian. Banyak pengguna yang berharap banyak, tapi akhirnya menemui gesekan di sana-sini. Artikel ini hadir bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk membantu kamu memahami apa yang sering jadi batu sandungan—sebelum kamu menghabiskan waktu menginstall dan mengatur segalanya dari nol.
Kenapa Kita Perlu Bicara Soal Kelemahan?
Mari kita sepakati dulu: tidak ada aplikasi yang sempurna untuk semua orang. Kelemahan yang bikin satu orang geram, bisa jadi hal sepele buat yang lain. Tujuan kita di sini adalah match-making. Memastikan kebutuhan finansialmu selaras dengan apa yang Sribuu bisa—dan tidak bisa—tawarkan. Ini soal investasi waktu dan, mungkin, uang. Lebih baik tahu risikonya dulu, kan?
Kelemahan yang Sering Muncul di Ulasan Pengguna
Setelah membaca ratusan ulasan di forum dan toko aplikasi, serta mendengar langsung dari klien saya, beberapa keluhan terus berulang. Kita bahas satu per satu dengan jujur, plus perspektif praktisnya.
1. Keterbatasan Fitur di Versi Gratis
Versi gratis Sribuu memang cukup untuk pemula absolut. Tapi, cepat atau lambat, batasannya akan terasa. Banyak pengguna merasa “dipaksa” upgrade begitu mulai nyaman.
- Limit akun bank: Biasanya hanya bisa sinkronkan 1–2 akun. Kalau kamu punya rekening payroll, tabungan, dan e-wallet aktif, harus pilih mana yang “penting”. Sisanya manual input, yang bisa bikin malas.
- Kategori terbatas: Tidak bisa buat sub-kategori custom. Misalnya, pengeluaran “Makan” tidak bisa di-breakdown menjadi “Makan di Kantin” vs “Makan di Resto” untuk analisis lebih detail.
- Iklan atau “soft paywall”: Beberapa fitur terkunci akan terus muncul sebagai rekomendasi, yang bisa mengganggu fokus.
Intinya: Versi gratis adalah uji coba yang panjang, bukan solusi jangka panjang. Kalau kamu serius, siapkan budget untuk upgrade.
2. Sinkronisasi Bank yang Tidak Selalu Mulus
Ini keluhan paling teknis tapi paling emosional. Fitur andalan Sribuu adalah sinkronisasi otomatis dengan bank lokal. Namun, stabilitasnya bergantung pada API bank dan server Sribuu sendiri.
Pengguna sering melaporkan:
- Transaksi muncul terlambat, kadang 6–24 jam setelah terjadi. Ini bisa mengacaukan pencatatan harianmu.
- Sinkronisasi putus di tengah jalan, harus re-authenticate berkali-kali. Membosankan.
- Transaksi ganda muncul kalau ada gangguan, yang butuh waktu ekstra untuk bersihin.
Solusi realistis: Jangan pernah 100% andalkan otomatisasi. Selalu punya waktu seminggu sekali untuk reconcile atau cocokkan manual. Ini memang extra work, tapi mencegah shock besar.

3. Model Berlangganan yang Dirasa Mahal
Harga berlangganan Sribuu Premium biasanya jatuh di kisaran Rp 45.000 – Rp 75.000 per bulan (bisa berubah, tapi ini patokan umum). Bagi sebagian pengguna, ini terasa mahal, apalagi kalau pendapatan bulanan masih di bawah Rp 5 juta.
Keluhan utamanya bukan hanya nominalnya, tapi perceived value. “Kenapa harus bayar segitu kalau fiturnya hanya sekadar unlimited akun dan bebas iklan?” rasanya tidak sebanding dibandingkan dengan alternatif internasional yang lebih murah atau lebih kaya fitur.
| Aspek | Persepsi Pengguna | Pertimbangan Ahli |
|---|---|---|
| Harga vs Fitur | Terlalu mahal untuk value-nya | Hitung cost per use. Kalau pakai setiap hari, Rp 2.000/hari itu murah untuk kebiasaan baik. |
| Komitmen | Takut langganan terus tapi tidak dipakai | Manfaatkan trial. Kalau tidak dipakai 3x seminggu, mungkin memang belum butuh. |
4. Otomatisasi & Fleksibilitas Terbatas
Sribuu cukup bagus untuk pemula karena sederhana. Tapi, untuk yang sudah punya sistem kompleks, keterbatasan ini jadi hambatan.
- Rule-based automation lemah: Tidak bisa set auto-tagging berdasarkan nama merchant yang spesifik. Misalnya, semua transaksi di “Warung Nasi Bu Tuti” otomatis masuk “Makan: Kantin”.
- Kurangnya integrasi: Belum terintegrasi dengan platform investasi lokal atau e-wallet tertentu. Data tetap terpisah.
- Laporan statis: Laporan yang ada cukup standar. Kalau butuh analisis cash flow forecasting yang lebih proyektif, tidak ada.
5. Dukungan Pelanggan & Komunitas
Dukungan via chat in-app biasanya responsif, tapi tidak 24/7. Kalau ada masalah kritis di malam hari atau akhir pekan, bisa jadi kamu harus tunggu hingga hari kerja berikutnya.
Komunitas pengguna Sribuu juga masih terasa kecil dibandingkan komunitas app internasional. Jadi, kalau kamu tipe yang belajar dari forum atau grup Facebook, sumber daya ini terbatas. Solusi masalah sering harus tunggu update resmi.
Strategi Praktis: Cara Mengatasi Kelemahan Ini
Sebagai perencana keuangan, saya tidak akan biarkan kamu hanya mengeluh. Mari kita buat rencana:
- Masalah: Limit akun bank. Strategi: Prioritaskan akun dengan transaksi paling banyak. Yang lain, catat manual sebagai “Akun Lain” dengan frekuensi mingguan, bukan harian. Hemat waktu.
- Masalah: Sinkronisasi lambat. Strategi: Jadwalkan 10 menit di malam Minggu untuk clean-up data. Jadi, meski delay, kamu tetap punya data akurat mingguan.
- Masalah: Mahal. Strategi: Gunakan versi gratis selama 30 hari penuh. Kalau benar-benar pakai setiap hari, itu sinyal kuat untuk inves Rp 50rb/bulan. Kalau tidak, mungkin belum butuh app se-level itu.
- Masalah: Fleksibilitas rendah. Strategi: Gunakan Sribuu untuk 80% kebutuhan dasar. Untuk analisis kompleks, ekspor data ke spreadsheet sekali sebulan. Kombinasi ini sering lebih powerful.
Apakah Kelemahan Ini Dealbreaker untuk Kamu?
Mari kita segmentasi. Kamu mungkin tidak perlu terlalu khawatir jika:
- Kamu punya 1–2 rekening saja dan mayoritas transaksi pakai kartu debit.
- Kamu butuh panduan sederhana, tidak mau pusing dengan custom rule.
- Budget kamu cukup sehat untuk Rp 50rb/bulan demi kenyamanan.
Sebaliknya, pertimbangkan dua kali jika:
- Kamu punya lebih dari 3 akun (bank + e-wallet) dan semua aktif.
- Kamu sudah punya sistem budgeting sendiri dan butuh customisasi tinggi.
- Harga adalah faktor kritis dan kamu rajin cari alternatif.
Kesimpulan: Tidak Ada Aplikasi Sempurna, Hanya yang Cocok
Kelemahan Sribuu adalah nyata, tapi mereka tidak hadir untuk membuatmu gagal. Mereka ada karena trade-off antara kesederhanaan dan kecanggihan. Yang terpenting adalah memulai. Jika setelah membaca ini kamu merasa, “Ah, ternyata keluhannya nggak seberapa,” maka Sribuu bisa jadi teman yang tepat. Kalau justru kamu mengangguk setiap poin dan berpikir, “Ini pasti akan bikin kesal,” maka bersiaplah eksplorasi lebih jauh.
Ingat, aplikasi hanyalah alat. Konsistensimu yang jadi kunci. Peralatan yang sempurna tapi tidak dipakai, kalah dengan alat sederhana yang dipakai setiap hari.
Catatan Penting: Ulasan ini berdasarkan pengalaman umum pengguna dan mungkin tidak mencerminkan kondisi terkini aplikasi. Harga dan fitur dapat berubah. Selalu lakukan uji coba pribadi. Ini bukan saran keuangan pribadi, tapi sekadar panduan untuk membantu keputusanmu.